Thursday, September 6, 2018

Tipe Kepribadian menurut Ilmu Psikologi



Sejak awal pengakuannya sebagai sebuah ilmu pada tahun 1879, psikologi terus mengalami perluasan menjadi berbagai macam cabang dan bidang. Ini dikarenakan perilaku manusia yang begitu beragam dan pemikiran yang berbeda-beda dari para ilmuwan dalam memandang pola perilaku manusia tersebut.
Dari berbagai perspektif itu, kemudian psikologi dibagi dalam bidang-bidang berikut : psikologi pendidikan , psikologi olahragapsikologi kepribadian, psikologi remaja, psikologi sosial, psikologi islam, psikologi kesehatan dan seterusnya. Koeswara mengungkapkan bahwa psikologi kepribadian merupakan bidang yang cangkupan pembahasannya paling luas.
Dalam artikel ini, akan dipaparkan gambaran umum tentang definisi hingga tipe-tipe dalam psikologi kepribadian manusia.
Definisi Tentang Kepribadian
Pada zaman Yunani kuno, topeng merupakan perlengkapan yang digunakan oleh para aktor sandiwara. Karakter yang dimainkan oleh para aktor adalah menampilkan kepribadian atau karakter sesuai dengan topeng yang digunakan. Dalam hal ini, topeng menggambarkan tentang siapa, apa, mengapa dan bagaimana perilaku seseorang.
Topeng dalam bahasa Yunani adalah persona, yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi personality. Kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tertanam dalam diri manusia.
Dorland mengemukakan tentang makna kepribadian, beliau menyampaikan bahwa kepribadian adalah sebuah pola unik seseorang dalam proses berpikir, merasakan dan melakukan tindakan yang cenderung stabil dan terprediksi.
Kepribadian juga didefinisikan sebagai kecenderungan sejak lahir (herediter) yang dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan, sehingga berpengaruh pada kejiwaan dan tindakannya dalam kehidupan. Hal ini merupakan pandangan kepribadian dari Weller.
Pendapat berikutnya datang dari ahli kepribadian bernama Allport, menurutnya kepribadian merupakan sebuah sistem psikofisis dalam diri seseorang yang bersifat dinamis, sehingga menimbulkan cara khas individu dalam menyesuaikan dirinya dalam lingkungan.
Pengertian lainnya datang dari David Krech & Richard S. Cruthcfield yang menyatakan bahwa kepribadian merupakan sebuah intergrasi dari karakter yang dimiliki seseorang dalam sebuah kesatuan yang khas, sehingga seseorang tersebut dapat memodifikasi dan menentukan penyesuaian diri. (dari lingkungan disekelilingnya yang selalu berubah).
Adolf Heuken, S,J dan kawan-kawannya memberikan pandangan bahwa kepribadian berarti pola menyeluruh yang ada pada individeu, termasuk kemampuan, perbuatan dan kebiasannya. Juga termasuk aspek jasmani, mental, spiritual dan emosi.
Dari berbagai pandangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian memiliki inti-inti definisi sebagai berikut ini :
  • Kepribadian adalah sebuah kesatuan yang terintegrasi, dimana terdiri dari aspek psikis dan fisik. Aspek psikis contohnya kecerdasan, sifat, tindakan, minat, cita-cita, bakat, pola pikir, idealisme dll. Sedangkan aspek fiisk meliputi bentuk tubuh, kesehatan jasmani dll.
  • Kesatuan yang terintegrasi tersebut kemudian berinteraksi dengan lingkungan yang ada disekeliling seseorang sehinga muncul pola tingkah laku atau perilaku yang khas seseorang.
  • Kepribadian itu bersifat dinamis (dapat berubah-ubah), meskipun dalam tiap perubahan-perubahannya, seseorang memiliki pola yang sifatnya khas (tetap).
  • Kepribadian dalam diri manusia diwujudkan dalam rangka pemenuhan tujuan yang ingin diraih oleh manusia tersebut.
  • Kepribadian merupakan sesuatu yang berjangka lama. Artinya ia akan menggambarkan sifat seseorang dalam kurun waktu yang relatif lama.
  • Kepribadian digunakan untuk menggambarkan atau menjelaskan perbedaan antar individu.
Konsep-Konsep Pendukung Psikologi Kepribadian Manusia
Menurut Alwisol, Untuk memahami ilmu kepribadian, ada beberapa konsep yang harus dipahami. Karena kepribadian merupakan interaksi yang melibatkan aspek-aspek karakter, temperamen, sifat-sifat, ciri dan kebiasaan. Berikut penjelasan singkatnya :
  1. Karakter (Character), Sebuah gambaran perilaku yang menunjukkan nilai-nilai (benar atau salah dan baik atau buruk) secara jelas (eksplisit) dan samar (implisit).
  2. Temperamen (Temperament), Sebuah kepribadian yang berhubungan dengan determinasi unsur biologis maupun fisiologis.
  3. Sifat-Sifat (Traits), kecenderungan respon yang sama terhadap rangsangan atau stimulasi yang senada. Sifat-sidat ini berlangsung dalam jangka waktu yang cenderung lama.
  4. Ciri (Type attribute), Hampir mirip dengan penejlasan sifat-sifat. Yang membedakan hanya dari sisi rangsangan atau stimulasi yang lebih terbatas.
  5. Kebiasaan (Habits), Adalah respon seseorang yang sama dan cenderung berulang-ulang untuk rangsangan / stimulus yang sama.



Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepribadian

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kepribadian merupakan sesuatu yang dinamis atau cenderung dapat berubah-ubah, hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi. Perubahan kepribadian seseorang tidak dapat terjadi secara begitu saja, tapi dikarenakan hasil proses pengamatan, pengalaman, usia,  intervensi dari luar (lingkungan sekitar – sosial budaya) maupun individu lain. Berikut faktor-faktornya :

  1. Pengalaman Awal, Freud menyatakan bahwa peran masa kecil (kanak-kanak) bahkan sejak lahir seperti trauma kelahiran adalah pengalaman yang sulit dilupakan dalam ingatan. Bisa jadi seseorang tidak ingat betul apa yang sudah terjadi pada dirinya waktu kecil, namun ternyata memeori tersebut bisa tersimpan di alam bawah sadar. 
  2. Lingkungan (Budaya), seseorang harus menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang dari kebudayaan yang berlaku dilingkungannya dalam pengembangan pola kepribadian dirinya.
  3. Kondisi Fisik, keadaan yang menimpa fisik seseorang seperti kelelahan, kekurangan gizi, penyakit tahunan, gangguan pada kelenjar endoktrin ke tiroid akan membuat seseorang merasakan perasaan negative pada dirinya. Misalnya saja, menjadi pemarah, hiperaktif atau bahkan depresi.
  4. Daya Tarik, jika sebuah lingkungan mengatakan bahwa seseorang memiliki daya Tarik tertentu. Hal ini akan membuat sikap sosial yang menguntungkan bagi seseorang yang dianggap menarik tersebut. Sehingga hal ini akan membentuk kepribadian tertentu pada orang tersebut. 
  5. Kecerdasan, sering kali seseorang yang memiliki prestasi dalam hal kecerdasan akan mendapatkan penghargaan dan pujian dari banyak orang. Ada beberapa kasus yang memungkinkan seseorang menjadi sombong dan membuat orang yang berada dibawahnya merasa menjadi orang yang bodoh.
  6. Emosi, seseorang yang tidak stabil emosinya dan cenderung meledak-ledak, akan menjadikan individu tersebut sebagai orang yang murung dan kasar perangainya.
  7. Nama, sebuah nama ternyata dapat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Tergantung apakah asosiasi nama tersebut cenderung mengarah pada hal yang menyenangkan atau tidak. Misalnya saja sebutan dan julukan yang buruk akan menjadikan seseorang untuk berperilaku seperti namanya.
  8. Keberhasilan atau Kegagalan, Pribadi akan tumbuh dengan adanya fase keberhasilan dan kegagalan. Jika seseorang mendapatkan kesuksesan, maka hal ini akan berpengaruh kepada konsep yang ada dalam diri orang tersebut.
  9. Penerimaan Sosial, jika seseorang diterima dalam lingkungan sosialnya, maka hal tersebut akan berpengaruh kepada kepribadiannya dikarenakan rasa kepercayaan diri yang dimilikinya.
  10. Lingkungan Keluarga, Sama seperti penerimaan sosial, atmosfer keluarga dimana seseorang tumbuh menjadi salah satu pilar dasar pembentukan kepribadian seseorang.
  11. Perubahan Fisik, perubahan fisik juga bisa menjadi salah satu faktor pembentukan kepribadian seseorang. Misalnya saja pertumbuhan usia manusia.
Usaha-Usaha Dalam Mempelajari Kepribadian Seseorang
Ada berbagai cara untuk dapat mempelajari kepribadian seseorang. Sejak dahulu, para ahli telah menggunakan bermacam cara mulai dari yang sifatnya tradisional (pendekatan non-ilmiah), maupun sifatnya modern (pendekatan ilmiah).
Berikut ini akan dipaparkan cara tradisional yang menggunakan pendekatan spekulatif (tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah). Pengetahuan ini dikenal juga sebagai pseudo science (ilmu semu), penjelasannya sebagai berikut :
  1. Chirologi, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia melalui gurat atau garis tangan
  2. Astrologi, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia melalui fenomena perbintangan atau benda angkasa, juga fenomena yang terjadi di alam yang berkaitan juga dengan tanggal kelahiran seseorang.
  3. Grafologi, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia melalui bentuk-bentuk atau karakter tulisan tangan.
  4. Phisiognomi, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia melalui karakter bentuk wajah.
  5. Phrenologi, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia berdasarkan karakter bentuk tengkorak seseorang.
  6. Onychology, ilmu yang mempelajari kepribadian manusia berdasarkan karakter bentuk kuku.
Sedangkan dalam pendekatan ilmiah, ilmu ini juga populer dengan tipologi. Secara pengertian, tipologi merupakan pengetahuan yang digunakan dalam mempelajari kepribadian manusia, dengan mengklasifikasikan manusia menjadi tipe tertentu. Penggolongan ini berdasarkan beberapa faktor diantaranya adalah karakter secara psikis, fisik, pengaruh budaya atau kebiasaan dsb.
  1. Tipologi Konstitusi (Fisik), sebuah pengetahuan dalam usaha mempelajari kepribadian seseorang berdasarkan aspek atau keadaan jasmaniah manusia tersebut (fisik luar dan organ dalam).
  2. Tipologi Temperamen (Psikis), sebuah pengetahuan dalam usaha mempelajari kepribadian seseorang berdasarkan karakter kejiwaannya.
  3. Tipologi Berdasarkan Nilai Kebudayaan (Kebiasaan), sebuah pengetahuan dalam usaha mempelajari kepribadian seseorang berdasarkan nilai-nilai kebudayaan (system nilai). Spranger menggolongkannya dalam enam bidang : Pengetahuan, ekonomi, kesenian, keagamaan, kemasyarakatan dan politik.
Tipe Kepribadian Manusia dalam Psikologi menurut Para Ahli
Berikut beberapa Tipe Kepribadian Manusia dalam Psikologi menurut para ahli, diantaranya:

A. Tipe Kepribadian Manusia Menurut Hippocrates & Galenus

Tipe Kepribadian Manusia dalam Psikologi pertama kali digaungkan pada tahun 460-370 Sebelum Masehi oleh Hipppocrates. Beliau memiliki pandangan bahwa alam semesta terdiri dari empat unsur (kering, basah, dingin dan panas). Dan keempat hal ini diyakini juga terdapat dalam diri manusia, yaitu :
  • Sifat kering (chole/empedu hitam).
  • Sifat basah (melanchole/empedu hitam).
  • Sifat dingin (plegma/lendir).
  • Sifat panas (sanguis/darah).
Kemudian pendapat ini dikembangkan oleh Galenus yang mengemukakan adanya dominasi salah satu cairan diatas akan menyebabkan munculnya kepribadian khas pada diri seseorang. Beliau kemudian mengklasifikasikan kepribadian manusia berdasarkan aspek temperamen dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Koleris 
Individu yang memiliki kepribadian koleris cenderung mempunyai kemampuan Leadership atau jiwa memimpin yang bagus. Hal ini dikarenakan kepribadian ini mudah menentukan sebuah keputusan. Individu yang berkepribadian  koleris mempunyai tujuan yang fokus untuk ke depannya juga selalu produktif dan dinamis.
Koleris juga merupakan pribadi yang suka akan kebebasan dan akan selalu bekerja keras selama hidupnya. Namun, sisi negatifnya, tipe kepribadian ini cenderung memerintah karena sifat kepemimpinannya, tidak mudah untuk mengalah, sangat suka dengan pertentangan, mudah tersulut emosi, tergesa – gesa, dan cenderung keras kepala karena kemauannya yang keras.
Selain itu, tipe koleris merupakan pribadi yang bersemangat, optimis, mandiri, visioner, memiliki kemauan keras, tegas, memiliki jiwa kepemimpinan, dominan, cenderung ceroboh, sarkas dan dingin.
2. Melankolis
Individu yang memiliki kepribadian melankolis cenderung analitis, suka memerhatikan orang lain, perfeksionis, hemat, tidak suka menjadi perhatian, serius, artistik, sensitif serta rela berkorban. Namun, tipe ini cenderung fokus pada cara atau proses ketimbang tujuan.
Individu dengan tipe melankolis pun kurang bisa menyuarakan opininya, cenderung melihat masalah dari sisi negatif, dan sering disebut anti sosial karena kemampuan bersosialisasi yang kurang baik. Dibalik itu semua, Banyak orang yang melankolis cenderung sukses menjadi seorang pengusaha yang hebat dan sukses.
3. Plegmatis
Tipe plegmatis merupakan pribadi yang selalu cinta damai dengan menjadi netral dalam segala kondisi konflik tanpa memihak kubu. Dalam kehidupan sosialnya, pribadi plegmatis cenderung senang berperan sebagai pendengar yang baik daripada berperan sebagai pelaku cerita.
Kemudian, Individu dengan tipe plegmatis memiliki selera humor yang bagus walau terkadang terdengar sarkatik (sifat humor yang menyinggung atau mengejek), Suka keteraturan, mudah bergaul, cenderung suka mencari jalan pintas.
Negatifnya, Individu dengan tipe koleris tidak suka dipaksa, cenderung menunda sesuatu hal dan tidak cepat tertarik terhadap hal-hal baru.  Disamping itu, tipe plegmatis cenderung Objektif, emosinya stabil, sistematis, efisien, dapat diandalkan, tenang, kurang memiliki motivasi, egois, tidak tegas, penakut, suka khawatir, tidak mudah dipengaruhi, setia.
4. Sanguinis
Tipe ini cenderung memiliki sifat sedikit seperti anak-anak. Individu dengan tipe Sanguin kebanyakan tidak menemukan masalah dalam kehidupan sosialnya. Hal ini di karenakan sanguin sejatinya mudah bergaul dan akrab walau dengan orang yang baru dikenal. Kemudian, dibandingkan dengan tipe lain, individu dengan kepribadian Sanguin sangat suka bicara, dan mudah untuk mengikuti sebuah kelompok.
Di balik sisi positifnya, individu ini cenderung agak sulit untuk fokus pada suatu hal, egois, pelupa, suka terlambat, dan  sering membesar – besarkan hal yang kecil. Sanguinis banyak dinilai sebagai pribadi yang ramah, responsive, hangat, antusias, dapat mencairkan suasana, suka bicara, kurang disiplin, pelupa.

B. Kepribadian Manusia Menurut Florence Littauer

Pada dasarnya penggolongan yang dilakukan Littauer dalam bukunya personality plus adalah penjabaran mendetail tentang kepribadian manusia berdasarkan teori Hippocrates dan Galenus. Bahwa seseorang berpeluang memiliki kepribadian campuran sebagai berikut :
  1. Campuran Alami : Sanguinis-Koleris dan Melankolis-Plegmatis
  2. Campuran Pelengkap : Koleris-Melankolis dan Sanguinis-Plegmatis
  3. Campuran Berlawanan : Sanguinis-Melankolis dan Koleris-Plegmatis

C. Tipe Kepribadian Manusia Carl Gustav

Psikolog asal Swiss ini membagi dan menggolongkan kepribadian seseorang berdasarkan sikap natural individual mereka. Secara umum beliau membaginya ke dalam tiga golongan : Introvert, Ekstrovert dan Ambivert. Berikut penjelasannya :
1. Tipe Introvert
Carl Gustav mendefinisikan introvert sebagai sikap individu dengan pandangan subjektif dalam setiap memahami dan memandang kehidupan. Sehingga dalam kenyataanya, tipikal manusia yang memiliki karakter ini lebih suka bekerja sendiri.
Mereka juga tampak pendiam karena memang menyukai suasana tenang dan selalu berpikir kedalam diri (reflektif). Intovert juga menggambarkan sebuah kepribadian orang yang selalu berpikir secara analitis dan mendalam.
Bagi seorang introvert, suasana tanpa melibatkan interaksi yang terlalu banyak bersama orang lain adalah sesuatu yang didambakan. Tidak heran banyak yang beranggapan bahwa orang dengan kepribadian introvert adalah orang yang kurang ramah.
2. Tipe Ekstrovert
Tipe ekstrovert merupakan inversi dari kepribadian introvert. Seseorang dengan karakter ini menyukai hal-hal yang melibatkan orang lain. Berada dalam komunitas dan aktivitas sosial merupakan hal yang menyenangkan bagi orang ekstrovert.
Individu ini biasanya dikenal sebagai pribadi yang supel dan komunikatif. Mereka juga membuka dirinya dengan mudah bercerita kepada orang lain. Mereka ini mampu beradaptasi dengan mudah.
3. Tipe Ambivert
Carl mengatakan bahwa tipe ambivert adalah gabungan antara karakter intovert dan ekstrovert. Orang dengan kepribadian ini seringkali disalahpahami sebagai orang yang mudah sekali berubah-ubah (pendiriannya).
Misalnya saja, seseorang dengan karakter ambivert akan terlihat nyaman dengan keramaian, namun juga ia dapat menemukan kesenangan dalam kesendiriannya. Ciri lainnya, mereka terkadang tampil sebagai orang yang banyak bicara, dan di lain waktu menunjukkan sikap yang pendiam. Ini dikarenakan tipe kepribadian ambivert menyesuaikan dirinya dengan siapa mereka berinteraksi.
Jika mereka berhadapan dengan introvert, maka ia akan lebih aktif dan komunikatif. Begitu juga sebaliknya jika mereka berhadapan dengan ekstrovert, mereka cenderung memilih menjadi orang yang pasif.

D. Kepribadian Manusia Menurut John L. Holland

Holland mengelompokkan Tipe Kepribadian Manusia dalam Psikologi dengan menilai aspek pemilihan pekerjaan seseorang. Beliau mengatakan bahwa sebuah pekerjaan yang diambil merupakan interaksi antara faktor bawaan (hereditas) dengan faktor budaya, lingkungan sosial, keluarga.

Tipe Realistik
Kepribadian ini menggambarkan pekerjaan dengan orientasi penerapan. Karakter orang yang memilih pekerjaan ini biasanya mengutamakan kekuatan dan keterampilan fisik, kurang bisa mengatur bahasa secara verbal, suka kepada hal-hal yang nyata, kurang dapat bersosialisasi kepada orang lain. Contoh profesi : Operator atau teknisi mesin, petani dan supir truk.
Tipe Konveksional
Kepribadian ini menunjukkan minat profesinya kepada hal yang berbau akademis. Mereka menunjukkan ciri khas bekerja dengan area pemikiran atau perenungan masalah, kurang bersosialisasi dan beracuan kepada tugas. Contoh profesi : ilmuwan fisika, ahli kimia, peneliti dan pekerjaan sejenis lainnya.
Tipe Sosial
Jenis kepribadian ini akan memilih profesi yang bersifat untuk membantu orang lain. Ciri khas yang muncul dari tipe ini adalah mereka panda untuk bersosialisasi, bertanggung jawab, rela berkorban, berorientasi pada perasaan ketimbang intelektual, peduli kemanusiaan dan menyukai kegiatan yang teratur. Contoh : psikolog, pekerja sosial, guru, terapis dan sejenisnya.
Tipe Wirausaha Entrepising
Tipe kepribadian yang memilih profesi yang mengutamakan kemampuan verbal ini biasanya menunjukkan kesenangan kepada angka, suka mengabdi, memandang status sosial dan materi serta mampu mencapai tujuan dengan dampingan atasan. Contoh profesinya adalah ahli statistic, kasir, pegawai bang dan sejenisnya.
Tipe Artistik
Tipe unik yang satu ini mempunyai kecenderungan kepada hal yang berhubungan dengan orang lain namun tidak langsung, memiliki sifat sosial dan sulit menyesuaikan diri.

E. Kepribadian Manusia Menurut Myers-Briggs Type Indicator (MBTI)

Dalam Tipe Kepribadian Manusia dalam Psikologi, Myers-Briggs mengelompokkan kepribadian manusia berdasarkan pengembangan teori Carl Jung. Yang mengemukakan dalam kepribadian seorang manusia, terdapat dua pasangan dikotomi fungsi kognitif manusia :
  1. Fungsi Rasional : Thinking (Berpikir) dan Feeling (Merasakan)
  2. Fungsi Irasional : Sensasi dan intuisi
Dari dua fungsi tersebut Myers-Briggs mengembangkan teorinya dalam empat pasangan rtipe indikator yang kemudian membentuk hingga 16 kepribadian manusia. Pasangan itu adalah :

Extraversion (E) - Intraversion (I)
Indicator ini berbicara mengenai respon sesorang dan bagaimana orang tersebut berinteraksi di lingkungan luar mereka. Jika Ektravert menunjukkan minat pada aksi dan interaksi sosial, maka sebaliknya, Introvert menunjukkan minatnya pada pikiran, menyukai interaksi sosial yang mendalam dan lebih berenergi ketika sendiri.
Sensing (S) - Intuition (I)
Kedua indicator ini memberikan pengetahuan tentang bagaimana karakter seseorang dalam mengumpulkan informasi yang ada di luar. Mereka yang  memilih sensing akan mengutamakan hal yang nyata yang bisa mereka indera langsung. Berorientasi pada fakta dan hal yang mendetail. Intuisi menunjukkan mereka lebih berorientasi pada probabilitas, memprediksikan sesuatu dan senang berpikir sesuatu yang abstrak.
Thinking (T) - Feeling (F)
Thinking dan Feeling menggambarkan bagaimana seseorang menentukan keputusan dari informasi yang mereka terima. Pemikir akan menentukan berdasarkan fakta. Mereka ini berkepribadian konsisten dan logis. Ssedangkan perasa akan mengutamakan emosi saat menentukan sesuatu.
Judging (J) - Peceiving (P)
Kedua indicator ini berbicara tentang bagaimana individu menunjukkan sikapnya kepada dunia luar. Orang tipe J akan bersikap tegas terhadap keputusannya. Sedangkan tipe P menunjukkan sikap yang lebih fleksibel.

Keempat pasangan indicator kemudian Myers-Briggs membuat rancangan dan teori tentang kepribadian manusia yang merupakan kombinasi kemungkingan diantara pasangan yang ada. Berikut gambaran kepribadian ke 16 tipe tersebut :
1. ISTJ (Introversion, Sensing, Thinking, Judging)
Bertanggungjawab, serius, damai, logis, objektif, bisa diandalkan, tekun, disiplin, pendengar yang baik, teguh dalam aturan dan prosedur tertentu. Profesi yang cocok adalah di bidang Manajemen, intelijen, hakim, pengacara, akuntan, programmer, analis. Saran pengembangan : lebih memahami kebutuhan dan perasaan orang, gunakan cara yang baik jika ada orang yang melanggar aturan, lebih terbuka pada perubahan dan bersikap positif terhadap apa yang sudah dilakukan orang lain.
2. ISFJ (Introversion, Sensing, Feeling, Judging)
Setia, berhati-hati, stabil, serius, ramah, detail, teliti, bertanggungjawab dan bisa diandalkan. Profesi yang cocok adalah dibidang Arsitek, konselor, penjaga toko, desainer, perawat. Saran Pengembangannya yaitu Belajar untuk menolak sesuatu, jangan ragu untuk mencoba hal baru.
3. INFJ (Introversion, Intuition, Feeling, Judging)
Perhatian, reflektif, perfeksionis, visioner, tekun, empati, berkomitmen dan sensitive. Profesi yang cocok adalah dibidang : psikolog, dokter, pekerja sosial, seniman. Saran Pengembangannya yaitu Berpikir seimbang dengan tidak memandang sisi negatif, Lebih rileks dan bersabar terhadap kesalahan orang lain.
4. INTJ (Introversion, Intuition, Thinking, Judging)
Visioner, mandiri, analitris, kritis, kompetitif, tidak terpengaruh terhadap kritik atau konflik. Profesi yang cocok adalah dibidang peneliti, ilmuwan, analis bisnis, pengacara, hakim. Saran Pengembangan yaitu Belajar mengungkapkan emosi, terbuka pada dunia luar, lebih berempati dan peka.
5. ISTP (Introversion, Sensing, Thinking, Perception)
Pendiam, logis, objektif, cepat beradaptasi, tegas, percaya diri, problem solver. Profesi yang cocok adalah dibidang  Polisi, Pilot, entrepreneur, atlit. Saran Pengembangannya yaitu lebih observatif, belaja rmengenal perasaan diri, belajar percaya.
6. ISFP (Introversion, Sensing, Feeling, Perception)
Artistik, sederhana, fleksibel, pelaksana yang baik, santai, menghindari konflik. Profesi yang cocok adalah dibidang seniman, pekerja sosial, psikolog. Saran pengembangan yaitu Jangan terus menghindari konflik, berpikir jangka panjang, lebih terbuka.
7. INFP (Introversion, Intuition, Feeling, Perception)
Penuh perhatian, peduli, idealis, perfeksionis, win-win solution. Profesi yang cocok adalah dibidang pengajar, penulis, seniman, konselor, psikolog. Saran Pengembangannya yaitu Belajar menerima kritik, tegas, jangan menyalahkan diri.
8. INTP (Introversion, Intuition, Thinking, Perception)
Penyendiri, tidak suka memimpin, kritis, mudah curiga, pesimis, menyukai hal ilmiah. Profesi yang cocok adalah dibidang ilmuwan, pengacara, jaksa, ahli forensik, penulis buku, programmer, ahli komputer. Saran Pengembangannya yaitu Lebih empati, rileks, focus terhadap satu ide, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu secara berlebihan.
9. ESTP (Extraversion, Sensing, Thinking, Perception)
Aktif, komunikator handal, menyukai olahraga, spontan, mudah beradaptasi. Profesi yang cocok adalah dibidang sales, marketing, pialang saham, entrepreneur. Saran Pengembangannya yaitu lebih memahami perasaan orang, sabar, memikirkan masa depan, lebih detail.
10. ESFP (Extraversion, Sensing, Feeling, Perception)
Murah hati, mudah bersosialisasi, optimis, ceria, suka perhatian orang lain. Profesi yang cocok adalah dibidang entertainer, seniman, marketing, bidang anak, pemandu wisata, bagian pelayanan. Saran Pengembangannya yaitu lebih fokus kepada satu hal, tidak gegabah dalam pengambilan putusan, tidak lari dari konflik.
11. ENFP (Extraversion, Intuition, Feeling, Perception)
Optimis, ramah, imajinatif, komunikator yang baik, bisa memahami orang lain. Profesi yang cocok adalah dibidang konselor, psikolog, pengajar, presenter, seniman. Saran Pengembangan yaitu  fokus, disiplin, belajar menghadapi konflik, pikirkan diri sendiri, hemat.
12. ENTP (Extraversion, Intuition, Thinking, Perception)
Inovatif, fleksibel, lincah, mau belajar, cenderung melakukan hal baru yang disenangi. Profesi yang cocok adalah dibidang aktor, pengacara, fotografer. Saran Pengembanganya yaitu jangan mau menang sendiri, perhatian pada orang lain, belajar untuk bisa lebih waspada, berusaha hindari perdebatan yang kurang perlu.
13. ESTJ (Extraversion, Sensing, Thinking, Judging)
Praktis, disiplin, konservatif, suka berorganisasi, disiplin, fokus pada hal yang berguna bagi dirinya, sistematis. Profesi yang cocok adalah dibidang dunia militer (tentara), hakim, polisi, akuntan. Saran Pengembangannya yaitu tidak memaksa orang lain, sabar, mengontrol emosi, belajar memahami orang lain. 
14. ESFJ (Extraversion, Sensing, Feeling, Judging)
Hangat, populer, teliti, santai, sederhana, rajin, mudah bekerja sama dengan orang lain. Profesi yang cocok adalah dibidang perawat, guru, perencana keuangan, bagian administrasi. Saran Pengembangannya yaitu tidak mengorbankan diri untuk kesenangan orang, tidak lari dari kritik, lebih dewasa, bisa lebih tegas dan tidak ragu untuk meminta pendapat orang lain saat akan mengambil keputusan.
15. ENFJ (Extraversion, Intuition, Feeling, Judging)
Imajinatif, peka, pandai bersosialisasi, loyal, membutuhkan apresiasi. Profesi yang cocok adalah dibidang konsultan, penulis, pengajar, kordinator acara, motivator, pskikolog. Saran Pengembangannya yaitu tidak mengukur harga diri dari penilaian orang, jangan terlalu keras terhadap diri sendiri.
16. ENTJ (Extraversion, Intuition, Thinking, Judging)
Tegas, jujur, tangguh, disiplin, mendominasi, pemimpin, kemauan yang kuat, berkarisma. Profesi yang cocok adalah dibidang entrepreneur, analis bisnis, bagian keuangan, pemimpin organisasi. Saran Pengembangannya yaitu belajar mengungkapkan perasaan, menghargai orang lain, mengelola emosi, hindari sikap arogan atau meremehkan kemampuan orang lain, belajar berpikir lebih luas dengan tidak memandang banar atau salah.
Demikian beberapa penjelasan tentang psikologi kepribadian dan tipe kepribadian manusia dalam psikologi. Semoga bisa bermanfaat bagi kita yang sedang mempelajari karakter dan aneka ragam kepribadian pada manusia.

Wednesday, September 5, 2018

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Konsep Dasar Kepribadian
Secara umum, ilmu psikologi adalah ilmu yang mempelajari cara untuk membentuk tingkah laku yang baru melalui proses asosiasi. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, dan juga oleh faktor genetik yang sudah ada sejak lahir. Lingkungan dapat mempengaruhi kepribadian individu, namun relatif dapat diubah dengan cara mengubah lingkungannya. Dengan begitu, terdapat salah satu cabang ilmu psikologi yang cukup penting peranannya yaitu Psikologi Kepribadian.
Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan karena banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya. Namun Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola prilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Rita and Richard, 1993).
I. Kepribadian secara Umum
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.

1.1 Kepribadian Menurut Ahli Psikologi
Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi digunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan. Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama. Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.
Menurut Larsen & Buss (2002) kepribadian merupakan sekumpulan trait psikologis dan mekanisme didalam individu yang diorganisasikan, relatif bertahan yang mempengaruhi interaksi dan adaptasi individu didalam lingkungan (meliputi lingkungan intrafisik, fisik dan lingkungan sosial). Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kepribadian menurut peneliti adalah sebuah karakteristik di dalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Dasar penelitian tingkah laku manusia tersebut dilakukan secara objektif melalui riset dan data empiris dengan berbagai pendekatan. Pendekatan dilakukan karena kepribadian tidak dapat dinilai dengan pasti.
Secara khusus faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian ada dua yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Pervin & John, 2001).
1. Faktor genetik mempunyai peranan penting didalam menentukan kepribadian khususnya yang terkait dengan aspek yang unik dari individu (Caspi, 2000;Rowe, 1999, dalam Pervin & John, 2001). Pendekatan ini berargumen bahwa keturunan memainkan suatu bagian yang penting dalam menentukan kepribadian seseorang (Robbins, 1998).
2. Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang membuat seseorang sama dengan orang lain karena berbagai pengalaman yang dialaminya. Faktor lingkungan terdiri dari faktor budaya, kelas social, keluarga, teman sebaya, situasi. Diantara faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepribadian adalah pengalaman individu sebagai hasil dari budaya tertentu. Masing-masing budaya mempunyai aturan dan pola sangsi sendiri dari perilaku yang dipelajari, ritual dan kepercayaan. Hal ini berarti masing-masing anggota dari suatu budaya akan mempunyai karakteristik kepribadian tertentu yang umum (Pervin & John, 2001). Faktor lain yaitu faktor kelas sosial membantu menentukan status individu, peran yang mereka mainkan, tugas yang diembannya dan hak istimewa yang dimiliki. Faktor ini mempengaruhi bagaimana individu melihat dirinya dan bagaimana mereka mempersepsi anggota dari kelas sosial lain (Pervin & John, 2001). Salah satu faktor lingkungan yang paling penting adalah pengaruh keluarga (Collins et al., 2000; Halvelson & Wampler, 1997; Maccoby, 2000 dalam Pervin & John, 2001). Tuntutan yang berbeda dari situasi yang berlainan memunculkan aspek-aspek yang berlainan dari kepribadian seseorang (Robbins, 1998).
1.2 Pendekatan dalam Psikologi
1.2.1 Pendekatan Psikoanalisis
Pendekatan psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
a. Id yang bersifat insting/ rasa : Eros(konstruktif) dan Fhanatos (destruktif)
b. Ego yang berdasarkan prinsip realitas, akal
c. Super Ego yang bertindak berdasarkan nilai-nilai sosial atau nila-nilai kesadaran.
1.2.2 Behaviorisme
Pendekatan ini menyatakan prilaku seorang individu di bentuk dari lingkungan sekitarnya, yaitu dari lingkungan keluarga hingga di lingkungan bermasyarakat. Contohnya adalah percobaan yang dilakukan oleh J.B. Watson tentang percobaan terhadap seorang bayi pada umur 8 bulan. Awalnya bayi sangat suka dengan semua yang berbahan lembut dan berwarna putih. Pada percobaan ini, ketika bayi ingin mendekati hal-hal yang disukainya tersebut, bayi diperdengarkan suara bantingan yang sangat kuat, begitu seterusnya. Karena percobaan ini, si bayi jadi phobia terhadap hal-hal diatas yang berwarna putih dan bertekstur lembut.
1.2.3 Humanistik
Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
Pendekatan Fenomenologis terhadap kepribadian mencakup teori-teori yang disebut
“humanistik” (karena teori-teori ini memfokuskan diri pada kualitas yang membedakan manusia dengan hewan, yaitu pengarahan diri dan kebebasan memilih) dan teori-teori “self” (karena teori-teori ini menyngkut pengalaman internal dan subjektif yang merupakan makna keberadaan seseorang).
Teori Humanistik atau Aktualisasi Diri, menurut Abraham Maslow bahwa humanistik adalah studi tentang orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya mutlak menjadi pondasi bagi ilmu psikologi yang lebih semesta, dan ia menyatakan bahwa manusia bukanlah sekedar pelakon, tetapi pencari makna kehidupan. Kemudian Maslow memulai penyelidikan terhadap orang-orang yang ia anggap self actualizer (seseorang yang memanfaatkan potensi diri dengan sangat luar biasa), seperti Albert Enstein, Jane Adams, Abraham Lincoln, William James, dan Eleanor Roosevelt.
1.2.4 Trait
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck. Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Pendekatan trait terhadap kepribadian yaitu berusaha memisahkan sifat dasar individu yang mengarahkan prilaku. Pendekatan ini memusatkan diri pada kepribadian umum dan lebih banyak berkaitan dengan pemerian kepribadian dan prediksi prilaku daripada dengan perkembangan kepribadian.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
1. Trait berasumsi bahwa orang mempunyai perbedaan beberapa dimensi atau skala kepribadian, yang masing-masing menunjukkan suatu trait.
2. Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain
3. Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
4. Trait konsisten dari situasi ke situasi
5. Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena: ada proses adaptif adanya perbedaan kekuatan, dan kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Trait sering dikatakan ”sifat”, sifat adalah tendens determinasi predisposisi dan diberinya definisi demikian: ”Sifat adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama, (Allport, 1951).
Trait mengacu pada karakteristik yang membedakan orang yang satu dengan orang yang lain secara konsisten dan relatif permanen. Ketika secara tidak formal kita menggambarkan diri kita sendiri atau orang lain dengan kata sifat seperti ”agresif”, ”cermat”, ”cerdas”, atau ”cemas”, kita menggunakan istilah-istilah trait. Kita menyimpulkan trait dari prilaku, kita tidak dapat membalik dan menggunakannya sebagai penjelasan prilaku. Jadi kita dapat menilai seseorang berdasarkan skala intelegensi, stabilitas, emosi, agresivitas, dan sebagainya (Rita and Richard Atkinson, 1993).
Para pakar psikologi yang bekerja dalam bidang teori trait berusaha:
1. Menemukan cara untuk mengukur trait.
a. Analisis Faktor
Merupakan teknik statistik yang rumit untuk mereduksi jumlah ukuran menjadi beberapa dimensi bebas.Dengan analisis factor kemudian Raymond Cattell mengidentifikasi 16 trait kepribadian dasar, Sixteen Personality Factor Questionnaire (16 PF) Mengumpulkan data melalui kuesioner, tes kepribadian, dan observsi prilaku dalam situasi kehidupan nyata selama lebih dari 3 dekade, pertanyaanya diubuat yang menggambarkan setiap trait, dan jawabannya dibuat agar mudah di skor. Ada 16 faktor yang menurutnya merupakan trait dasar yang mendasari kepribadian.
Contoh oleh raymond Cattell : Skor test rata-rata pada sekelompok pilot penerbang, sekelompok seniman dan sekelompok penulis, dengan membandingkan profil kepribadiannya.
Berikut diatas ini adalah gambar profil kepribadian ketiga kelompok tersebut. Dijelaskan bahwa semakin garis yang ada pada gambar ke atas, maka sifatnya makin mendekati sifat yang sebaliknya, misalkan pada penulis poin ke-J, garis kuning lebih condong ke atas, hal ini menerangkan bahwa seorang penulis tidak praktikal, namun imajinatif.
b. Minnesota Multiphasic Personality Inventori MMPI
Tersusun dari 550 pertanyaan tentang sikap, reaksi, emosional, gejala fisik, psikologis, dan pengalaman masa lalu) yang dijawab dengan ”benar”, salah”, ”tidak dapat dikatakan”.
Jenis-jenis Traits yang ada berhubungan dengan istilah temperamen dalam teori yang dikemukakan oleh Julius Bahnsen, yaitu Teori Bhansen. Tipologi J.Bahnsen adalah salah satu cara pendekatan menurut Julius Bahnsen. Menurutnya kepribadian seseorang ditentukan oleh tiga macam keadaan kejiwaan yaitu :
Temperamen dan Kemauan, posodynie, dan daya Susila
Temperamen ditentukan oleh 4 faktor, yaitu :
1. Spontanity nampak jika orang menentukan sikap terlepas dari pengaruh orang lain; jadi sikap atauperilaku tersebut benar-benar berpangkal pada jiwanya sendiri. Ada dua macam spontanitas, yaitu: Kuat dan lemah
2. Reseptivity adalah cara bagaimana orang menerima kesan, apakah cepat atau lambat. Juga disini secara teori terdapat dua macam reseptivitas, yaitu : Cepat dan lambat
3. Impresionability yaitu mendalam atau tidaknya pengaruh suatu keadaan terhadap jiwa. Secara teori dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : Mendalam dan Tidak mendalam
4. Reaktivity adalah lama atau tidaknya suatu kesan mempengaruhi jiwa. Dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Lama dan tidak lama
Kemudian Imanuel Kant menganggap temprament sebagai corak kepekaan dan caracter corak fikiran.
Temprament mengandung 2 aspek :
1. Aspek fisiologis: konstruksi tubuh
2. Aspek psikologis: kecendrungan kejiwaan oleh komposisi darah.
a. Tempramen perasaan: Sanguinis dan Melancholis.
b.Tempramen kegiatan: Choleris dan Phlegmatis


Gambar : Contoh kemungkinan kombinasi variasi temperamen jika dimisalkan
Spontanitas individu yang diuji telah diketahui A (kuat)
Keempat golongan ini membagi traits yang merupakan banyak kombinasi dari posisi keberadaan.
1. Sanguinis (orang dengan darah ringan) : Mudah dan kuat menerima kesan tapi tidak mendalam dan tahan lama.
Ciri-Cirinya :
a. Perasaan penuh harapan, Jarang menepati janji
b. Sesuatu pada suatu waktu dipandangnya penting, tapi kemudian tidak . .difikirkan lagi. Senang menolong orang lain tapi tidak bisa jadi sandaran
c . Sukar bertaubat jika bersalah
d. Tidak mudah bosan dengan hiburan dan permainan.
2. Temprament Melancholis (orang dengan darah berat)
Ciri-cirinya :
a. Hal yang bersangkutan dengan dirinya dipandangnya penting dan selalu . .disertai dengan kebimbangan.
b. Perhatiannya terpusat pada segi kesukaran-kesukaran.
c. Tidak mudah membuat janji, karena akan selalu berusaha menepati . . .janji, jika tidak menepati akan merisaukan dirinya.
d. Tidak mudah percaya dengan orang lain.
e. Kurang dapat melihat kesenangan orang lain.
3. Temprament Choleris (orang dengan darah panas)
a. Cepat terbakar amarah, tapi cepat padam pula
b. Tindakan-tindakanya cepat tapi tidak konstan(tidak taat aturan)
c. Selalu sibuk, namun lebih suka memerintah orang lain.
d. Selalu mengejar kehormatan
e. Suka di puji secara terang-terangan
f. Suka pada sikap semu dan formal
g. Suka bermurah hati dan melindungi, untuk mendapat penghargaan.
h. Dalam berpakaian rapi dan cermat
4. Temprament Phlegmatis (Orang dengan darah dingin)
a. Lambat menjadi panas, tetapi jika panas akan tahan lama.
b. Suka dengan tugas-tugas ilmiah, kurang peka, tidak malas
Penilaian Kepribadian
Penilaian kepribadian haruslah objektif dan tidak bias, dengan begitu, kita akan lebih memahami seseorang tanpa melihat stereotip karakteristik yang dianggap sebagai ciri khas kelompok tertentu.
Penilaian kepribadian berfungsi untuk :
1. Memilih seseorang untuk menduduki jabatan tingkat atas
2. Kemampuan seseorang mengatasi stres
3. Membantu siswa memilih jurusan
4. Penelitian, co penelitian tentang hubungan kecemasan dan prestasi di sekolah.
Berikut ada beberapa metode yang digunakan dalam penilaian kepribadian:
1. Metode Observasi
Ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti, dan sistematis. Dalam hal ini observer dapat melalui tiga cara, yaitu :
a. Instrospeksi
Intro berarti dalam dan spektare berarti melihat, jadi pada instrospeksi, individu mengalami sesuatu dan ia sendiri dapat pula mengamati, mempelajari apa yang dihayati itu.
b. Instrospeksi Ekperimental
Suatu metode instrospeksi yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen-eksperimen secara sengaja dan dalam suasana yang dibuat. Metode ini berfungsi mengatasi subektivitas yang ada di metode instrospeksi.
c. Ekstrospeksi
Berarti melihat keluar, extro berarti keluar, dan speksi sama dengan spektare yang berarti melihat, jadi Ekstrospeksi adalah metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala jiwa oranglain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan pantomik.
2. Metode Proyektif
Merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan, dalam mekanisme proyeksi indvidu secara tidak sengaja menempatkan isi batin sendiri pada obyek diluar dirinya sendiri dan menghayatinya sebagai karakteristik obyek yang diluar dirinya itu. Pelopor upaya ini, Herman Rorschach seorang psikiater dari Swis dengan mencobakan sejumlah besar gambar-gambar tak struktur untuk mengungkapkan isi batin tertekan pada pasien-pasiennya. Dari sejumlah gambar-gambar, akhirnya dipilih 10 gambar yang dilakukan. Kemudian dikenal dengan nama Tes Rorschach.
3. Metode Interview
Merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Berbeda dengan angket yang pertanyaan-pertanyaannya diberikan secara tertulis, pada interview pertanyaan-pertanyaan diberikan secara lisan.
Keuntungan Metode Interview
a. Hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas,
b. Penginterview dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterview,
c. Adanya hubungan langsung antar penginterview dengan yg diinterview.
Kekurangan Metode Interview
a. Penyelidikan kurang hemat, dalam waktu dan tenaga.
b. Penginterview harus memiliki keahlian, dan itu butuh waktu lama.
c. Jika interview telah ada prasangka, maka hasilnya tidak objektif.
4. Paper and Pencil
Merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan dimana pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang dapat menjelaskan bagaimana diri kita, yang di tanyakan melalui test terulis.